Dewan Pengkhianat Rakyat (DPR)

 



Di negeri demokrasi, harapan rakyat dijunjung tinggi, namun di Indonesia kepentingan Rakyat itu hanya di atas kertas. Lembaga yang katanya mewakili suara rakyat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah berubah menjadi Dewan Penghianat Rakyat.


Betapa ironis, lembaga yang seharusnya menjadi benteng terakhir demokrasi malah menjadi pengkhianat paling ulung. Mereka duduk nyaman di kursi empuk, menikmati segala fasilitas sambil memutuskan nasib rakyat tanpa benar-benar peduli.


Alih-alih mendengar dan memperjuangkan suara rakyat, mereka lebih sibuk mengatur strategi untuk mengamankan posisi dan keuntungan pribadi. Kepentingan siapa yang mereka bela? Bukan rakyat, tapi para oligarki dan elit yang terus menggerogoti negeri ini dari dalam.


Lihatlah bagaimana mereka dengan wajah tanpa dosa mengabaikan protes dan kritik, seolah-olah rakyat adalah gangguan kecil yang tak penting.


Dalam sidang-sidang yang penuh drama, mereka berpura-pura mendengarkan sementara keputusan sudah ditulis jauh sebelum suara rakyat sempat didengar.


Ketika undang-undang yang mencederai hak-hak kita disahkan, mereka malah berlindung di balik alasan-alasan murahan, menganggap kita terlalu bodoh untuk memahami permainan kotor mereka.


Demokrasi? Di mana demokrasi itu sekarang? Terkubur di bawah tumpukan janji-janji palsu dan kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang.


Setiap kali kita mendengar kata "DPR," ingatlah bahwa ini bukan lagi Dewan Perwakilan Rakyat, tapi Dewan Penghianat Rakyat. Demokrasi kita perlahan berubah menjadi sekedar kata tanpa makna, sebuah pertunjukan yang dimainkan untuk memberi kesan bahwa kita masih memiliki suara. Padahal, suara kita tak lebih dari bisikan yang tak pernah dihiraukan. 


Di Negeri ini, pengkhianatan adalah norma, dan suara rakyat hanyalah gema hampa di ruang-ruang parlemen yang dingin.


Tr. Hantu

Rabu 21 Agustus 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Partai Politik Biang Keladi!!

Partai Politik Telah Mati (Momen Pilkada 2024)