Partai Politik Biang Keladi!!
Partai politik di negeri ini, memberikan efek baik dari segi efektivitas dalam pengurangan angka tidak datang ke bilik suara atau biasa dikatakan "Golput". Disisi lain, memberikan dampak negatif, dikarenakan kurangnya memberikan pendidikan politik bagi pemilih atau masyarakat luas. Momen pilkada 2024 kali ini, hanya memetakan basis suara untuk kemenangan semata. Tujuan dari pilkada dengan memakai perspektif partai politik adalah kemenangan dan berkuasa, diluar daripada itu tidak ada. Pendidikan politik hanya pengenalan partai pengusung dan pengenalan kandidat calon, selebihnya ialah absurditas dalam ucapan Albert Camus.
Dalam pandangan machiavelli, pendidikan politik hanya ibarat akses manipulasi untuk pengenalan janji yang akan di terapkan nantinya. Tujuan utamanya adalah berkuasa tanpa mengedepankan nilai-nilai moralitas yang ada. Segala cara, tidak ada cara baik atau benar, semuanya sama dalam pandangan machiavelli. Hal ini juga berlaku jika melihat realita partai politik sekarang, pendidikan politik hanya pengenalan partai dan figur, tanpa memberikan sudut pandang yang membuat pemilih semakin akrab dengan tindakan moralitas, yang walaupun terpecah belah, tetapi tetapi menjaga nilai nilai moralitas yang ada.
Partai politik tidak menjadi sarana edukasi bagi masyarakat luas. Masyarakat hanya objek suara, bukan subjek yang menentukan keberlangsungan demokrasi ideal. Demokrasi ideal hanya ilusi dalam partai politik. Diksi yang digunakan menjadikan tren di sosial media untuk sementara. Selesai kontestasi, maka selesailah semuanya. Kebijakan penentu bukan rakyat semata, ada invisible hand (tangan tidak terlihat) yang mengatur semuanya. Rakyat, lembaga Negara, dan Negara itu sendiri hanya objek galian dalam narasi partai politik.
Keran demokrasi sudah terbuka luas. Diksi ini digunakan untuk menggambarkan keadaan semu yang menjadi rahasia tangan tidak terlihat tadi. Kejadian yang sebenarnya bukan yang terjadi didepan layar, tetapi dibelakang layar. Dalam teori panggung Ervin goffman, yang memetakan panggung depan dan panggung belakang, yang katanya, jika ingin melihat calon kandidat atau partai politik yang sesungguhnya, maka lihatnya yang dibelakang layar, karena hal-hal yang tidak terlihat itulah orisinal dalam dunia politik kita hari ini.
Kewajiban partai politik, bukan hanya memberikan baliho, banner, atau selebaran dalam pendidikan politik, tetapi lebih daripada itu, contohnya memberikan pemahaman tentang sistem negara, aturan main dalam demokrasi, manfaat memberikan suara dalam pemilihan dan paling peting ialah bahaya laten politik uang dalam demokrasi. Hal terkait tadi, sudah luput dari mata partai politik, dikarenakan partai politik sibuk saling mencaci maki jika sudah di arena tanding, dan saling bermesraan di balik warung kopi para elit.
Dalam keadaan demokrasi yang saling sikut. Isu netralitas di angkat, jika salah satu calon tidak mendapatkan sokongan, maka netralitas aparatur negara, ASN, TNI Polri dan lainnya akan bermunculan. Isu netralitas bukan problem utama dalam demokrasi sekarang, tetapi hanya bola panas yang digiring oleh oknum yang bertopeng korban, dan semua partai, kandidat adalah oknum bertopeng tadi. Hal paling penting tadi tentang pendidikan politik yang mengedepankan asas asas demokrasi yang berbalut dengan nilai-nilai moralitas hilang tenggelam dalam lubang demokrasi ini.
Kesepakatan dalam muara demokrasi harus tercapai bersama. Sebelum terlaksana arena judi coblos tadi, tangan tidak terlihat yang mengontrol, harus lebih dahulu bersepakat untuk sama-sama melihat kedepan, demi kebaikan bersama bangsa ini. Kepentingan kelompok tidak usah di kesampingkan, tetapi mencari jalan keluar bersama, dimana semua kelompok diuntungkan. Normatif dalam berpolitik tidak mungkin. Kondisi lapangan yang ada tidak memungkin untuk itu, tetapi elaborasi adalah suksesi partai politik dalam melihat realita yang ada, bukan memaksakan bahan yang ada.

Komentar