Gibran: Dari Walikota Solo, Wakil Presiden, Dan Calon Ketua Umum Golkar.
Pada saat pencalonan Walikota solo kemarin, Gibran memakai variabel kelanjutan yang ditinggalkan Jokowi sebagai bapaknya sendiri. Tentu saja, bisa dikatakan Gibran mendapatkan keuntungan tersendiri daripada lawan politiknya. Apa yang dilakukan Jokowi kemarin pada saat menjabat Walikota Solo kemarin menjadi batu landasan untuk melakukan kampanye dan tentu saja bantuan partai politik pemenang pemilu 2019, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Pada Pemilu dan Pilpres kemarin, beberapa variabel seperti, kepala negara dan hampir semua perangkat negara ikut mensukseskan pencalonan Gibran. Di hal lain, keuntungan Gibran juga di perkuat dengan mendampingi Prabowo Subianto yang juga merupakan ketua umum Partai Gerindra, itu sendiri. Ditambah dengan beberapa partai besar yang lolos parlemen lainnya seperti Golkar, PAN, dan beberapa partai luar parlemen.
Gibran juga diperkuat dengan isu keberlanjutan yang diusung oleh koalisi Jokowi dan beberapa partai pengusung yang tentu saja ini mendapat dukungan dari pemerintah sekarang yang tidak ingin kehilangan arah pemerintahannya.
Arah politik Gibran tidak sampai disini saja, isu yang terbangun sekarang adalah calon ketua umum Golkar, yang tahtanya baru saja ditinggal oleh ketua umum yang lama, yaitu Airlangga Hartarto.
Isu hangat ini, bukan tanpa sebab, karena mulai dari pencalonan Gibran menjadi calon Wakil Presiden yang mulanya di deklarasikan oleh Partai Golkar sendiri. Walaupun Gibran adalah Kader dari Partai PDIP itu sendiri pada waktu itu. Posisi Gibran sebagai Wakil Presiden terpilih yang sekarang, bukan tidak mungkin menjadi isu hangat yang dibicarakan oleh berbagai kalangan. Walaupun salah satu syarat untuk menjadi calon ketua umum partai Golkar minimal pernah menjadi kader 5 tahun dalam Golkar. Tetapi itu bukan masalah demokrasi dewasa ini.
Bukan tidak mungkin, Gibran bisa menjadi Ketua umum Golkar dengan berbagai variabel yang terbentuk sebelumnya, ditambah dengan kontrak politik belakang panggung, seperti teori panggung Erving Goffman, yang menjelaskan apa yang terjadi di depan panggung dan di belakang panggung. Itu semua bisa dimainkan politikus saat ini, tinggal bagaimana stakeholder yang terbangun itu membantu dalam segala usahanya.
Golkar sebagai partai tertua di Indonesia, yang tentunya sudah matang dalam segala kondisi politik. Gibran sebagai Wakil Presiden, bisa menjadi wajah baru bagi Golkar yang di isi oleh politik senior dan Gibran juga sebagai representasi dari kalangan muda dalam tubuh partai politik dan Golkar itu sendiri. Variabel terbaik yang menjadi hitungan Golkar itu sendiri adalah Jokowi efek, dimana sampai diakhir kepemimpinannya masih saja menjadi figur kuat dalam politik nasional dan mampu menjadi arah penentu politik kedepannya.
Partai Golkar yang saat ini yang membutuhkan wajah baru dalam kepemimpinannya, pasti akan mempertimbangkan Gibran untuk menjadi ketua Umumnya. Efek Jokowi bisa mempermudah itu semua dan internal partai Golkar sebagian pasti mengarah ke Gibran dikarenakan, posisi Gibran saat ini yang terpilih sebagai Wakil Presiden dan bukan hal yang tidak mungkin, Gibran bisa saja mencalonkan diri menjadi presiden pada tahun 2029 lewat Partai Golkar

Komentar